kdjskjdk

pasang

Hellofest 2013

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

December Triped In Garuda Wisnu Kencana, Bali

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

My Best Friend

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Inspiration in Our Class

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Marketeers Magazine

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 12 Juni 2013

Terima Kasih Telah Menaikkan Harga BBM

.


Dari Kami, yang Sering Kau Sebut ‘Si Miskin’   
Salam sejahtera untuk kita semua, terutama untuk Bapak Presiden yang—dilihat dari kantung matanya—nampaknya sudah begitu berpikir dan bekerja keras agar rakyatnya sejahtera dan hidup serba layak. Tak perlu serba cukup, itu terlalu tinggi bagi orang-orang seperti kami—yang sering kau sebut Si Miskin ini.
Panggil kami Si Miskin. Jangan lagi tanyakan hal retoris pada kami semacam apakah kami suka dengan sebutan ini, bahkan bagi sebagian kami ini adalah gelar persembahan presiden yang sangat membanggakan. Setiap nama kami ini disebut, semacam ada gairah baru untuk bekerja lebih gigih dan keras. Kadang kami lupa waktu, lupa makan, lupa istirahat, tapi tenang saja, ada dua hal yang tak pernah kami lupa: yang pertama keluarga dan yang kedua presiden kami sudah barang tentu. Bagaimana dengan Tuhan? Ah, kadang kami ingat bila sedang luang. Gelar—Si Miskin—ini membuat kami begitu sibuk, sejujurnya.
Jika anda bertanya kenapa sedari tadi kami menggunakan kata ‘kami’, tentu karena kami tidak sendiri. Anggota kami kurang lebih ada 28,59juta (BPS 2013), bayangkan bila seluruh anggota kami dikumpulkan dalam satu tempat. Banyak, bukan? Hal lain yang membuat kami amat bangga selain jumlah kami yang banyak ini adalah sistem seleksi yang ketat. Untuk menjadi bagian dari Klub Si Miskin—gelar kehormatan dari presiden—ini maksimal pendapatan perbulan haruslah Rp259,520, lebih dari itu jangan harap anda mendapat gelar kehormatan ini. Lihatlah, betapa spesialnya kami!
Beberapa hari yang lalu, di layar televisi warna 14 inch kreditan di rumah kami, kami melihat sebuah iklan yang menyebut-nyebut nama kami. Siapa yang tidak senang bisa muncul di TV? Ah, kami makin mencintai Pak Presiden. Dalam tayangan yang kami lihat itu disebutkan bahwa APBN negeri yang kami cintai ini sedang deficit, untuk menyelamatkannya harga BBM harus dinaikkan. Sejujurnya kami tak begitu mengerti apa itu APBN, apa itu defisit, dan bagimana hitung-hitungannya bekerja. Yang pasti, kelak bila harga BBM naik, katanya Pak Presiden akan memberi kami uang dengan cuma-cuma. Wahai Pak Presiden, terimalah sembah sujud dari kami sebagai ungkapan terima kasih.
Kini kami sangat antusias menantikan penaikan itu. Sebab jelas penaikan harga BBM akan meningkatkan produktivitas kami, Pak Presiden yang kami hormati pasti senang. Ada beberapa hal yang membuat kami senang dan harus berterima kasih entah dengan cara apa bila Pak Presiden jadi menaikkan harga BBM.
Pertama, jelas harga-harga sembako akan naik—barangkali harga rokok kesukaan kami juga, entahlah, kami tak terlalu mengerti bagaimana caranya harga-harga itu selalu merangkak naik. Hal ini jelas akan membuat kami makin produktif, bekerja makin keras, makin sering lembur dan mengerjakan apa saja untuk membeli sembako-sembako itu. Ah, itu terdengar sangat mulia dan menyenangkan! Semacam jihad barangkali.
Kedua, dengan adanya uang cuma-cuma dari Pak Presiden yang disebut BLSM itu jelas kami akan mengantre panjang dari Sabang sampai Merauke. Ini pasti sangat menyenangkan karena dalam antrian itu kami akan bertemu orang-orang baru, bersentuhan, lalu sesekali saling menginjak. Kami benar-benar tak bisa membayangkannya. Apalagi nilai estetis dari antrian BLSM, pasti indah. Oh iya, sebagian kami sudah punya rencana sebenarnya untuk uang itu, antara lain untuk membeli Handphone model baru yang bisa kami pakai untuk Twitteran, kami berharap bisa menyapa Pak Presiden di sana, karena kami dengar Pak Presiden cukup aktif di Twitter. Sebagian kami lainnya berencana menggunakan uang ini untuk membeli baju lebaran, urusan sembako bisa kami urus belakangan.
Ketiga, dengan penaikan harga BBM ini, jelas akan memperpanjang barisan kami, yang biasa disebut Si Miskin ini. Ada 29,38juta orang anggota Si Hampir Miskin (BPS 2011) yang kelak akan menjadi bagian dari kami. Siapa yang tidak bahagia bisa mendapat jutaan keluarga baru? Ini semua tentu berkat upaya keras Pak Presiden.
Ah, Pak Presiden, setiap peluh dan kerja kerasmu ini, entah bagaimana kami bisa membalasnya.
Tapi ngomong-ngomong, kami juga sering mendengar kabar-kabar tidak sedap yang kami tak mengerti maksudnya, tapi pasti itu tidak benar kan, Pak Presiden? Misal suatu kali kami pernah dengar kabar bahwa Pak Presiden tidak serius dalam mengelola energi, termasuk menyiapkan konversi BBM ke Gas. Di waktu yang lain kami juga mendapat kabar bahwa APBN kita banyak yang tidak jelas kemana muaranya, ah, pasti mereka mengada-ngada. Ada juga kabar tentang penyelundupan BBM bersubsidi untuk industri-industri, bah, mereka pikir kami akan percaya?

"Membaca Ironi "Dua Dunia"


Belum lama ini media massa memberitakan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan menembus angka 3.900, yang merupakan rekor terbaru dalam sejarah pasar finansial Indonesia.
Dana asing yang masuk ke Indonesia tahun ini mencapai Rp 103,6 triliun, sekitar Rp 29,5 triliun di antaranya dalam bentuk penanaman modal asing. Sementara dana yang masuk ke pasar finansial tahun 2011 mencapai Rp 64,1 triliun, yakni obligasi negara (SUN) Rp 39,1 triliun, Sertifikat Bank Indonesia Rp 7,1 triliun, dan pembelian saham (net buying) Rp 17,8 triliun.
Masih suramnya ekonomi AS dan Uni Eropa akibat terpaan krisis ekonomi beruntun merupakan faktor utama di balik besarnya arus modal asing yang masuk ke Indonesia, khususnya di pasar finansial. Bahkan, Bursa Efek Indonesia sempat disebut-sebut sebagai salah satu bursa efek dengan kinerja terbaik di dunia
Ironinya, dalam waktu yang sama, kita juga disuguhi berita-berita terkait hukuman pancung atas seorang TKI bernama Ruyati, yang menyebabkan hubungan Indonesia-Arab Saudi sempat memanas. Pemerintah mengumumkan moratorium (penghentian sementara) pengiriman TKI ke Arab Saudi mulai Agustus, yang direspons Pemerintah Arab Saudi dengan menghentikan pemberian visa kepada TKI yang hendak memasuki Arab Saudi (tanpa menunggu datangnya bulan Agustus). Jumlah TKI di Arab Saudi mencapai 1,5 juta orang, kebanyakan adalah perempuan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
”Dua dunia”
Analisis JH Boeke (1910) tentang dualisme ekonomi Hindia Belanda tampaknya masih terus mengena hingga kini. Ada sektor kehidupan rakyat jelata yang bersifat tradisional dan cenderung stagnan di satu sisi, yang tidak tersambung dengan sektor kehidupan modern yang melaju kencang dan terintegrasi dengan sistem kapitalisme dunia di sisi lain. Harian Kompas (25/3/2010) menyebutkan, hanya 331.000 orang Indonesia yang ikut bermain di pasar finansial. Ini sangat kontras dengan ”dunia rakyat jelata” yang dicerminkan oleh (antara lain) sekitar 6,5 juta TKI yang terpaksa mempertaruhkan nyawa di negeri orang guna menghidupi diri dan keluarganya.
Setiap tahun diperkirakan dana yang dikirimkan oleh TKI untuk keluarganya di Indonesia mencapai sekitar Rp 70 triliun. Arus dana dari para TKI inilah yang secara substansial menghidupi ekonomi daerah-daerah kantong TKI, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat, di tengah makin terpinggirnya sektor pertanian dan makin sempitnya lapangan kerja di sektor industri. Data Himpunan Pengusaha Muda Indonesia menyebutkan, sepanjang tahun 2010 sekitar 25 persen pekerja di sektor manufaktur kehilangan pekerjaan akibat penerapan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-China (ACFTA).
Pertumbuhan ekonomi nasional terus meningkat dan tahun ini diperkirakan mencapai 6,5 persen, tetapi angka pertumbuhan itu tampaknya masih kurang mencerminkan kemampuan sistem ekonomi nasional untuk menjamin kesejahteraan dan lapangan kerja bagi rakyat jelata.
Sensus yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (2008) menunjukkan, hanya 28 persen tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor formal. Selebihnya, 72 persen tenaga kerja mencari penghidupan di sektor informal. Artinya, mereka bekerja bukan karena kehebatan negara dalam menyediakan lapangan kerja, tetapi dipaksa ”kreatif” oleh keadaan sehingga sektor informal menjadi pilihan.
Menjembatani ”dua dunia”
Fenomena ”dua dunia” dalam ekonomi Indonesia menyiratkan adanya beberapa hal. Pertama, kegagalan rezim otoriter Orde Baru dan rezim reformasi untuk melakukan transformasi ekonomi dari struktur warisan kolonial ke struktur ekonomi modern yang benar-benar mampu menumbuhkan kekuatan ekonomi lokal dan nasional dengan kemampuan menyerap angkatan kerja yang memadai.
Kedua, ”keterputusan” atau ketidakterkaitan antara demokratisasi politik di satu sisi dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat di sisi lain. Demokratisasi politik telah diwujudkan dalam penciptaan lembaga-lembaga dan proses-proses politik formal yang demokratis dari tingkat pusat sampai daerah. Namun, justru di sisi sosial ekonomi rakyat jelata makin sulit mendapatkan pekerjaan di tengah pameran kemewahan hidup lapisan menengah ke atas yang kian konsumtif.
Adalah penting untuk mendekatkan jarak antara visi ekonomi dan keberpihakan pada perikehidupan rakyat jelata.
Boleh saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan Indonesia bisa masuk 10 besar kekuatan ekonomi dunia, sebagaimana dia ungkapkan dalam KTT Bisnis ASEAN-Uni Eropa, Mei lalu. Namun harus diingat, produk domestik bruto (GDP) yang digunakan sebagai ukuran kekuatan ekonomi hanya didasarkan pada besarnya transaksi ekonomi yang terjadi di wilayah Indonesia, tak peduli itu dilakukan oleh rakyat Indonesia atau korporasi asing. Kesenjangan sosial dan marginalisasi kehidupan rakyat jelata juga sama sekali tidak diperhitungkan dalam mengukur GDP.
Jika prediksi Presiden itu benar-benar terjadi kelak, melambungnya GDP Indonesia itu bisa saja berlangsung bersamaan dengan berlanjutnya kenyataan adanya jutaan WNI yang masih harus mencari nafkah di luar negeri untuk menyambung hidup diri dan keluarganya. Artinya, Indonesia bisa saja masuk jadi ”kelompok elite” dalam ekonomi global, tetapi jutaan warganya masih harus hidup sebagai semacam ”kasta sudra” di negeri orang.
Itulah ironi ”dua dunia” dalam ekonomi Indonesia. ”Dua dunia” itu tak kunjung tersambung secara struktural akibat kegagalan pemerintah mewujudkan strategi pembangunan yang dapat menjembatani dan mengintegrasikan keduanya.
Syamsul Hadi Pengajar Ekonomi Politik UI; Anggota Pendiri Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia

Melihat Kembali Sekolah


Melihat dengan perspektif berbeda dapat memberikan hal – hal baru yang mungkin selama ini belum pernah kita pikirkan. Kali ini kita akan mendengarkan pendapat dari Dedy Corbuzier mengenai sekolah, you will find this very interesting !
Sekitar empat tahun yang lalu saya mengadakan seminar di sebuah sekolah ternama, dan hasilnya amat sangat mengguncang sekolah tsb, karna setelah itu banyak guru dan kepala sekolah yang datang kepada saya mengatakan bahwa, apa yang saya sampaikan tidak pantas di sampaikan kepada murid yang datang pada saat itu, karna saya lebih pro ke murid daripada ke sekolah tsb.
Tapi saya akan mengatakan lagi hal ini kepada anda supaya anda dapat mendengarkan apa yang saya sampaikan pada saat itu walaupun dalam waktu yang singkat karna hanya dalam bentuk suara rekaman saya.
Pertama, saya ingin mengatakan dulu bahwa sekolah itu, “penting” , Ok ?!  jadi, bukan mengatakan bahwa anda tidak harus sekolah, jangan sampai kesana larinya. tapi saya ingin mengatakan bahwa, walaupun sekolah itu penting, namun banyak hal yang salah di dalam sekolah, terutama di Indonesia.
Mengapa?
Begini saja.. anda pasti tahu bahwa banyak sekali anak2 yang jelek nilai sekolahnya atau tidak baik di sekolahnya, tapi besar nya bisa sukses. sedangkan anak2 yang sukses di sekolah, saya tidak mengatakan bahwa mereka tidak bisa sukses, tapi banyak sekali yang akhirnya kerja, menjadi pegawai biasa.
kenapa hal itu bisa terjadi? karena masa depan tidak ditentukan oleh sekolah.
kalo anda liat dari, apa sih yang ingin dibentuk oleh sekolah?
menurut saya hanya satu, sekolah ingin membentuk anak2nya menjadi guru.
jadi, guru matematika, ingin membuat anak2nya menjadi guru matematika. Guru sejarah ingin membuat anak2nya yang belajar, menjadi guru sejarah. Begitu juga dengan guru2 lainnya.
anehnya, kalo kita ambil seorang guru, ambil saja, guru matematika. Lalu, kita beri test tentang geografi, saya berani yakin bahwa dia tidak menguasai geografi. Atau guru kimia, kita test seni rupa, saya yakin guru kimia tersebut tidak bisa melakukan test seni rupa, atau nilainya jelek.. Atau guru seni rupa, kita test olahraga, pasti dia juga tidak bisa olahraga dengan nilai baik.
lalu mengapa, kalau guru2 tersebut tidak bisa melakukan hal lain dengan nilai baik, tapi murid2nya dipaksakan mendapatkan semua nilainya baik. Aneh kan ??
kalau gurunya saja hanya menguasai satu mata pelajaran, mengapa semua murid harus menguasai semua mata pelajaran.
ya, mungkin untuk dasar, katanya.
tapi, toh ternyata ketika sudah dewasa sang guru pun sadar bahwa dia tidak menggunakan atau tidak memerlukan semua ilmu/pelajaran yang diberikan pada saat dia kecil. Iya tidak???
karna, pada dasarnya tidak ada manusia yang bisa sempurna dalam segala hal, begitu juga murid2.
murid2 tidak bisa menguasai semua hal secara baik. banyak sekali pelajaran2 yang diberikan dan tidak digunakan ketika dewasa.
contohnya begini saja, mempelajari peta buta. Saya sampai sekarang tidak tau kenapa saya harus mempelajari peta buta ketika saya kecil. Saya tidak menjadi ahli geografi, saya juga tidak menjadi tour guide, saya tidak menjadi itu. Lalu buat apa saya dulu mempelajari itu? Kalo saya ingin menjadi seorang tour guide atau saya ingin menjadi seorang ahli geografi, mungkin saya harus mempelajari hal tersebut.
atau menghafalkan nama2 gubernur, menghafalkan nama2 walikota yang sedangkan walikota atau gubernur berganti setiap berapa tahun sekali.
Jadi, sangat amat tidak masuk akal, menurut saya. Saya tidak tahu sekarang masih atau tidak harus menghafal nama2 tersebut. Dulu saat saya masih sekolah, di SMP atau SMA saya lupa, guru  akuntan saya mengatakan pada saya, karna nilai akuntan saya jelek. “Kalau nilai akuntansi kamu jelek, Ded, kamu tidak akan bisa menjadi orang sukses.”
O ya? Ternyata saya bisa sukses dan saya bisa membayar akuntan yang bekerja pada saya. Itu adalah fakta.
Sekarang begini sajalah, apa sih yang harus di ubah? sekolahnya? mungkin sistemnya.
Mengapa tidak sejak kecil ketika anak masih dari sekolah SD, kita lihat dulu berapa lama, apa yang dia suka. lalu kita bagi kelasnya. Kalau anak tersebut suka matematika, berikan pelajaran matematika lebih banyak, kalau anak tersebut suka sejarah, berikan dia pelajaran sejarah lebih banyak.
Jadi seperti orang kuliah tapi sejak kecil. Jadi sejak kecil anak itu sudah dijuruskan kepada apa yang dia suka, bukan dijejalkan dengan semua pelajaran yang dia suka atau tidak suka, harus bisa dan harus hafal. Ada anak dengan rengking satu yang bisa menghafalkan semuanya, tapi begitu dia menjadi dewasa, pikirannya telah terkotaki, kreativitasnya  telah buntu, otak kanannya tidak akan jalan.
Kenapa?
Karna yang dipakai hanya otak kiri, menghafal, menghafal, menghafal, menghafal, dan menghafal. Akhirnya, bukan pintar, bukan cerdik, tapi jago menghafal. Menghafal rumus matematika, menghafal sejarah, menghafal peta buta, dan sebagainya. Dan biasanya anak2 tersebut pelajaran olahraganya atau pelajaran seni rupanya jelek karna otak kanannya tidak dipakai
Anak saya sekolah di sekolah internasional, dan sejak kecil, sejak SD,  anak saya sudah diarahkan ke pelajaran mana yang dia lebih suka dan kelasnya lebih banyak. Jadi, kelasnya banyak dan anaknya sendiri yang datang ke kelas bukan gurunya yang datang ke kelas untuk mengajar anaknya.
lalu bagaimana merubah itu semua?
memang susah karna sekolah pasti tidak akan ingin merubah. butuh tahunan untuk merubah itu.
saya harap satu saat bisa. tapi sebelum itu bisa, apabila yang mendengarkan suara saya ini orangtua, dengarkan ini baik2. Apabila yang mendengarkan suara saya ini adalah anak2, minta orangtua anda untuk mendengarkan suara saya, sebentar saja.
kalau seandainya orangtua mendukung apa yang paling anak sukai dalam mata pelajaran, mungkin dia akan menjadi anak yang lebih berhasil nanti kedepannya.
bagaimana caranya?
Begini, pelajaran matematika merah, pelajaran seni rupa bagus, kenapa yang harus di lesi di rumah pelajaran matematika? Kenapa memanggil guru matematika untuk memberi les tambahan matematika?
Tidak perlu kan? Kenapa tidak di lesi sesuatu yang memang anak itu suka!
Kalau anak saya pelajaran matematikanya jelek dan pelajaran seni rupanya bagus, saya tentu akan meleskan anak saya seni rupa, supaya bakatnya sudah mulai dikembangkan sejak kecil.
Bukan memaksakan hal yang memang mereka tidak suka.
Kalau seni rupanya jelek, sejarahnya bagus, biarkan pelajaran seni rupanya jelek, pelajaran sejarahnya dibantu orangtuanya di rumah untuk lebih dikembangkan. Memang ada pelajaran2 yang kalau nilai anda jelek maka anda tidak lulus ujian atau tidak naik kelas.
ya, kalo pelajaran2 seperti itu dibantu supaya mendapatkan nilai secukupnya, cukup untuk lulus & naik kelas tentunya. Tidak perlu sembilan, tidak perlu sepuluh.
ingat!
nilai pelajaran anda tidak menentukan masa depan anda, nilai UAS anda tidak menentukan masa depan anda, anda ranking satu di kelas bukan berarti anda akan berhasil menjadi manusia kelak ketika  anda dewasa, sama sekali tidak berhubungan menurut saya.
Kuncinya adalah orangtua di sini.
Orangtua harus mendukung apa yang anak suka. Kalau ada pelajaran yang jelek, pelajaran yang baik, dukung pelajaran yang baik ..
Jangan memaksakan terhadap anak dari yang asalnya pelajarannya jelek menjadi bagus, nilainya sembilan atau sepuluh, tidak penting!
Tidak perlu takut untuk mendapatkan nilai jelek!Tidak perlu takut untuk tidak naik kelas!
Tidak naik kelas bukan berarti masa depan anda hancur
Ada lho, anak yang sampai bunuh diri karna dia tidak naik kelas, justru itu yang hancur masa depannya.
Saya, pernah tidak naik kelas. Masalah? Tidak sama sekali.
Orangtua saya marah? Tidak sama sekali pada saat itu. Kebetulan orangtua saya berpikiran luar biasa dan moderat, dan tidak semua orangtua bisa seperti itu
Tapi itulah yang saya harapkan dari para orangtua di Indonesia. Memberikan dukungan pada anak2nya, tidak memarahi anak pada saat nilai anaknya jelek, tidak menghakimi pada saat tidak semua pelajaran nilai sang anak mendapatkan yang terbaik. Kita harus mengerti dan mendukung apa yang anak itu suka.
ingat sekali lagi bahwa,
Masa depan anda tidak bergantung pada pintar tidaknya anda di sekolah
Masa depan anda tidak tergantung  pada anda naik kelas atau tidak naik kelas
Masa depan anda juga tidak tergantung dari nilai rapor anda
Masa depan anda sebenarnya tergantung pada kemampuan anda bersosialisasi
Masa depan anda tergantung pada cara dan sikap anda dalam menambah pengetahuan anda setiap harinya dari mana saja, dari majalah, internet, buku, cerita, pengalaman2 orang, atau darimana saja yang anda sukai.
saya punya teman yang waktu kecilnya di kenal jelek karna suka main game dan sekarang dia menjadi pemilik toko game terbesar di Indonesia. kaya raya.
Masa depan anda tidak tergantung dari nilai sekolah anda
Masa depan anda, ada di tangan anda
Jangan takut untuk mendapatkan merah di sekolah anda
Kadang2, merah artinya sukses untuk masa depan anda
saya,  Deddy Corbuzier